SPIRITNESIA.COM, SOE – Aroma busuk dugaan kongkalikong antara birokrasi dan mafia sapi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) kian menyengat. Ikatan Mahasiswa Amanatun (IMAN) Kupang secara terang-terangan menuding adanya keterlibatan oknum pemerintah setempat yang tidak hanya membiarkan, tetapi diduga kuat menjadi bagian dari gurita mafia yang mencekik ekonomi daerah.
Kritik pedas ini meledak setelah pemerintah dinilai sengaja menutup mata terhadap praktik culas yang menghambat pengusaha lokal. Ketua IMAN Kupang, Deki Selan, menegaskan bahwa kegagalan pemerintah dalam mengawasi tata niaga ternak telah memberikan ruang bagi mafia untuk mengintervensi kebijakan strategis.
“Pemerintah seolah-olah memberikan karpet merah bagi mafia sapi, sementara masyarakat terus menderita,” tulis Deki dalam rilis resmi yang diterima media, Sabtu (04/04).
Deki menilai, ada upaya sistematis untuk “merasionalkan” keberadaan mafia sekaligus membunuh karakter serta usaha pengusaha lokal yang selama ini taat pada prosedur (SOP). Lemahnya pengawasan birokrasi dituding sebagai celah sengaja yang diciptakan untuk memuluskan permainan kotor di lapangan.
“Birokrasi di TTS lemah, mafia bebas beraksi. Ini sepertinya ada permainan yang dalam. Ini mencerminkan pemerintah yang korup dan hanya mementingkan diri sendiri,” tegas Deki dengan nada geram.
Tak hanya menggertak lewat kata-kata, IMAN Kupang berjanji akan menjadi “mimpi buruk” bagi para pelaku. Mereka menyatakan komitmen penuh untuk mengawal skandal ini hingga ke akar-akarnya.
“Kami akan terus mengawal kasus ini sampai mengusik semua mafia yang ada di tubuh Timor Tengah Selatan,” pungkasnya. (Melky)

