SPIRITNESIA.COM, TTS – Tim dosen Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan pendekatan unik di Desa Tesi Ayofanu, Kecamatan Ki’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Selasa (11/2/2026). Guna memastikan pesan kesehatan tersampaikan dengan efektif, tim menggunakan Bahasa Dawan sebagai media edukasi pencegahan stunting.
Strategi penggunaan bahasa ibu ini dipilih untuk mengatasi kendala literasi dan pemahaman masyarakat terhadap materi kesehatan yang selama ini didominasi Bahasa Indonesia. Melalui bahasa lokal, informasi krusial mengenai kesehatan ibu dan anak diharapkan dapat diserap secara utuh oleh warga setempat.
Kegiatan yang berlangsung di Posyandu Desa Tesi Ayofanu ini terintegrasi dengan agenda rutin bulanan, seperti imunisasi, pemberian vitamin bagi balita, serta pemeriksaan ibu hamil. Acara dibuka langsung oleh Kepala Desa Tesi Ayofanu yang memberikan apresiasi atas inisiatif akademisi tersebut.
Dalam laporannya, Kepala Desa mengungkapkan bahwa angka stunting di Desa Tesi Ayofanu mulai menunjukkan tren positif. Berdasarkan data terbaru per awal 2026, jumlah anak stunting turun menjadi 35 anak dari sebelumnya 38 anak pada tahun 2025. Pihak desa berkomitmen terus melakukan pendampingan gizi dan pemberian makanan tambahan.
Dosen dari Program Studi Administrasi Publik UNWIRA selaku pemateri utama memaparkan langkah pencegahan stunting melalui Konsep ABCDE:
1. Aktif minum tablet tambah darah.
2. Bumil rutin memeriksakan kehamilan.
4. Cukupi konsumsi protein hewani.
4. Datang ke posyandu setiap bulan.
5. Eksklusif ASI selama enam bulan.
Agar materi lebih komunikatif, tim membagikan pamflet pencegahan stunting dalam Bahasa Dawan. Penjelasan teknis mengenai pentingnya sanitasi dan 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) juga dipertegas kembali oleh perawat Poskesdes menggunakan bahasa lokal, yang memicu antusiasme para ibu untuk berdiskusi aktif.
Kegiatan diakhiri dengan deklarasi bersama antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan tim dosen UNWIRA untuk menolak stunting. Pendekatan berbasis budaya ini diharapkan menjadi model edukasi kesehatan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat di pelosok NTT. Melky)

