SPIRITNESIA.COM, WAINGAPU – Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Fraksi PDI Perjuangan, Antonius Landi, menyatakan sikap tegas menolak wacana rasionalisasi atau pemberhentian sekitar 9.000 tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkup Pemerintah Provinsi NTT.
Pernyataan tersebut disampaikan Antonius di sela-sela kegiatan Reses Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025–2026 yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama warga di Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumba Timur, Kamis (12/3/2026).
Antonius menegaskan bahwa ribuan tenaga PPPK tersebut merupakan garda terdepan dalam pelayanan dasar di NTT. Menurutnya, mereka tidak boleh dipandang sekadar sebagai beban anggaran dalam neraca daerah.
“PDI Perjuangan secara ideologis membela wong cilik. Kita tidak boleh melihat 9.000 tenaga PPPK ini sebagai angka statistik semata. Mereka adalah tulang punggung pelayanan kesehatan, pendidikan, dan administrasi. Merasionalisasi mereka berarti melumpuhkan pelayanan publik kita sendiri,” ujar Antonius di hadapan ratusan warga yang hadir.
Wacana rasionalisasi ini mencuat menyusul pemberlakuan UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD). Aturan tersebut mewajibkan pemerintah daerah membatasi belanja pegawai maksimal 30 persen dari APBD.
Sebagai anggota Komisi I DPRD NTT, Antonius mengakui aturan tersebut menjadi tantangan berat bagi fiskal daerah. Namun, ia menekankan bahwa efisiensi anggaran tidak boleh dilakukan melalui pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Untuk mengatasi persoalan ini, Antonius memaparkan tiga langkah strategis yang akan diperjuangkannya:
1. Desakan Afirmasi ke Pemerintah Pusat
DPRD dan Pemprov NTT didorong untuk segera bersurat kepada Kementerian Keuangan dan Kemendagri. Tujuannya guna meminta masa transisi atau kebijakan khusus bagi daerah dengan kapasitas fiskal rendah seperti NTT agar tidak dipaksa mengikuti standar belanja pegawai secara kaku.
2. Peningkatan PAD secara Kreatif
Pemerintah daerah dituntut lebih inovatif dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan PAD yang lebih besar, ruang fiskal akan meluas sehingga rasio belanja pegawai dapat ditekan tanpa harus mengurangi jumlah personel.
3. Rumah Aspirasi bagi PPPK
Antonius menegaskan bahwa Sekretariat DPC PDI Perjuangan Sumba Timur terbuka lebar sebagai “Rumah Aspirasi”. Para tenaga PPPK dipersilakan mengadukan kendala yang dihadapi untuk dicarikan solusi bersama di tingkat legislatif.
“Tugas kami adalah memastikan hukum dan anggaran hadir untuk melindungi rakyat, bukan menjadi ancaman bagi penghidupan mereka. Perjuangan untuk 9.000 PPPK ini akan terus kami kawal di meja sidang di Kupang,” pungkasnya.
Kegiatan reses yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan dialog bersama dan buka puasa bersama warga sebagai bentuk kepedulian dan kedekatan legislator dengan konstituennya. (Tim)
