Suara dari Lembah Molo: Saat Petani Tuik Bukael Menjadi “Pewarta” Kebun Sendiri

SPIRITNESIA.COM,  – Siang itu, tepatnya Sabtu (28/02/2025) pukul 13:30 WITA, kabut tipis masih membalut langit Kota Soe. Dinginya udara kota menuju desa cukup menggigit, ketika saya bersama dua rekan wartawan menyuduri jalan aspal tua berkerikil menuju Desa Kualeu, Kecamatan Molo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kami mencari markas kelompok tani Tuik Bukael, para petani dan kebun-kebun mereka.

Kami menuruni lereng terjal menuju kebun-kebun petani di wilayah lembah yang sedang menghijau oleh ragam tanaman hortikultura. Di antara barisan wortel dan cabai hijau yang tumbuh subur, Fridolin Tfukani (28) berdiri menenteng tas hitam kecil, sambil jemarinya sesekali menggapai ujung dedaunan tanaman cabai hasil usahanya bersama anggota kelompok.

Pandangannya kuat ke arah kami bertiga dan Irma (seorang staf Yayasan CIRMA), ketika sorotan kamera menantangnya. Fridolin adalah anggota Kelompok Tani Tuik Bukael. Bersama 20 anggota lainnya, dua perempuan dan 19 laki-laki ia kini tak hanya berkutat di kebun, tetapi juga belajar menjadi “pewarta” bagi aktivitas mereka sendiri.

Inspirasi itu muncul setelah ia dan rekannya Sefris mengikuti pelatihan jurnalisme warga yang digelar Yayasan Media Flores Peduli (YMFP) mitra Yayasan CIRMA dalam kerja sama dengan jurnalis Kompas, Frans Pati Herin pada awal Februari 2026 lalu.

“Saat ini kami sudah bisa edit foto dan video sederhana. Sudah mulai tayang di Facebook dan TikTok,” kata Fridolin dengan wajah berbinar.

Sejak pelatihan itu, Fridolin dan rekannya Sefris mulai rajin mendokumentasikan setiap kegiatan kelompok. Mulai dari menanam wortel, menyiangi kacang panjang, hingga rapat kecil di bawah pohon.

“Belum banyak, tapi kami sudah mulai. Tanam sayur, kami foto dan video. Lalu edit sedikit, kasih caption, lalu tayang,” ujarnya.

Meski terlihat sederhana, proses itu tidak selalu mudah, kata Fridolin. Telepon genggam yang digunakan sering kali tidak mendukung aplikasi pengeditan. Beberapa fitur terkunci dan hanya bisa dibuka jika membayar versi premium.

“HP belum memungkinkan. Baru edit sedikit sudah muncul tulisan premium, harus bayar. Kami belum ada uang,” katanya sambil tersenyum malu. Namun keterbatasan itu tak menyurutkan semangatnya dan Sefris.

Di hadapan kami, Fridolin mengungkapkan bahwa ia dan anggota kelompok Tuik Bukael mengelola lahan yang dulu dikenal sebagai tanah tidur, keras dan tandus. Mereka membalik tanah secara manual, tanpa alat modern. Pelan-pelan, lahan itu berubah menjadi kebun hijau yang ditanami wortel, cabai, tomat, pare, hingga kacang panjang.

Air untuk mengairi tanaman berasal dari sumber mata air kali yang mengalir dari ketinggian sepanjang musim. Namun saat kemarau tiba, mereka sering kekurangan air karena belum memiliki pipa dan mesin pendorong. Mereka hanya mengandalkan media sederhana seadanya, seperti bilah bambu.

Selain air, tantangan lain datang dari hama di musim hujan. Semua diatasi secara mandiri, dengan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki. Jika tidak tahu, mereka bertanya kepada Irma.

Bibit tanaman sebagian dibantu pemerintah desa dan pemerintah daerah. Sementara untuk pendampingan teknis, mulai dari pengolahan lahan hingga pemasaran, mereka didukung oleh Yayasan CIRMA.

Kini, kebun mereka relatif aman dari gangguan ternak karena hewan peliharaan warga sudah ditertibkan.

Untuk menjual hasil panen, petani Tui Bukael memanfaatkan tiga mobil pick up yang beroperasi di desa. Ada juga tengkulak yang datang langsung ke kebun, meski harga yang ditawarkan biasanya lebih rendah sekitar Rp2.000 dibanding harga pasar.

Dok. Spiritnesia.com

Waktu yang begitu singkat ketika sore mulai turun perlahan. Kami meninggalkan kebun Kelompok Tani Tuik Bukael. Setelah menyusuri barisan wortel dan cabai, mendengar cerita Fridolin tentang pengalamannya belajar jurnalisme warga, langkah kami mengikuti lekukan pematang yang sempit. Tanahnya masih lembap, dan di kejauhan terlihat perbukitan Molo yang mulai diselimuti cahaya keemasan.

Tujuan kami adalah rumah sekretaris kelompok Tuik Bukael. Rumah sederhana itu berdiri di bibir jalan, tak jauh dari kebun. Di terasnya, beberapa kursi plastik sudah disusun melingkar. Aroma kopi hitam dari dalam, yang baru diseduh menyambut kedatangan kami.

Kami duduk bersama di dalam ruang berukuran 4×3 meter. Di atas meja kecil tersaji kopi panas dan kue seadanya. Tidak ada suasana resmi. Obrolan mengalir ringan, diselingi tawa dan candaan khas orang kampung.

Dari percakapan santai itulah, cerita-cerita lain mulai terungkap. Tiga orang anggota kelompok yang hadir sore itu pernah merantau ke Malaysia. Mereka bekerja sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit. Pengalaman itu masih membekas jelas di ingatan mereka. Bangun tidur pukul 03:00 dini hari lalu tidur malam di pukul 23:00. Waktu yang singkat bagi tubuh untuk beristirahat dan pulih dari Lelah.

“Susah-susah, lebih baik tinggal di kampung sendiri dan kerja kebun,” kata salah satu dari mereka, rekan sekretaris kelompok, sambil menyeruput kopi. “Ke Malaysia itu untuk cari pengalaman boleh, tapi kalau mau cari uang besar, itu mimpi, bapak. Kami bicara begini karena kami sudah rasa sendiri kerasnya kerja di sawit.”

Nada suaranya datar, tanpa amarah. Lebih seperti kesimpulan panjang dari perjalanan hidup yang sudah dijalani.

Menurut mereka, Desa Kualeu sebenarnya menyimpan kekayaan yang sering tidak disadari warganya sendiri. Tanahnya subur. Air tersedia. Alam memberi cukup. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk mengolahnya dengan tekun.

“Tinggal rajin kerja saja,” timpal yang lain. “Asal rajin kerja sa, bapa.”

Mereka percaya, jika warga desa mau membangun semangat kerja sama dan gotong royong, kesejahteraan bukan hal yang mustahil. Tidak perlu jauh-jauh merantau, jika kampung sendiri bisa memberi kehidupan.

Obrolan sore itu terasa hangat. Di antara kopi, kue sederhana, dan cerita tentang tanah serta pengalaman merantau, terselip keyakinan yang tumbuh pelan-pelan, bahwa masa depan tidak selalu harus dicari di negeri orang. Kadang, ia sudah ada di kebun sendiri tinggal diolah dengan sabar dan setia.

Dari hamparan hijau kebun petani dan kisah anggota kelompok yang adalah para mantan buruh sawit, muncul gagasan baru dari anggota Tuik Bukael untuk membentuk koperasi petani. Irma, vocal point Yayasan CIRMA bercerita dengan pelan kepada tim. Ia mengatakan dirinya sedang mendampingi pertemuan kelompok dalam merancang pembentukan koperasi petani. Wadah ini nantinya akan menampung seluruh hasil kebun anggota.

“Koperasi akan jadi pusat penjualan. Pedagang ambil dari satu pintu, dengan harga yang terkontrol dan seragam,” jelasnya.

Hasil penjualan akan kembali ke anggota. Bisa untuk kebutuhan rumah tangga, simpan-pinjam, biaya pendidikan anak, atau keperluan lainnya.

Irma juga melihat peluang lebih besar. Produk hortikultura dari koperasi bisa mendukung kebutuhan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun memasok ke Koperasi Desa Merah Putih.

Bagi Fridolin dan teman-temannya, media sosial dan rencana koperasi adalah dua langkah kecil menuju perubahan yang lebih besar. Dari kebun sederhana di Desa Kualeu, mereka tidak hanya menanam sayur, tetapi juga menanam harapan agar suara petani bisa didengar lebih luas, bahkan melampaui batas desa mereka sendiri. *

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *