SPIRITNESIA COM, KUPANG – Program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan perkembangan signifikan hingga memasuki medio April 2026. Tercatat, program ini telah menjangkau 698.298 penerima manfaat yang mencakup pelajar di berbagai jenjang pendidikan hingga kelompok masyarakat rentan.
Data terbaru menunjukkan sebaran penerima manfaat didominasi oleh siswa SD (kelas 1-6) yang mencapai lebih dari 233.000 anak, disusul siswa SMP sebanyak 124.879 orang, dan SMA sebanyak 105.935 orang. Program ini juga menyentuh jenjang PAUD, TK, Madrasah, Sekolah Luar Biasa (SLB), hingga pendidikan keagamaan seperti Seminari dan Pondok Pesantren.
Tidak hanya fokus pada pelajar, MBG di NTT juga memberikan perhatian khusus pada kesehatan ibu dan anak dengan menyasar 6.751 ibu hamil dan 16.216 ibu menyusui. Sebanyak 60.430 balita juga tercatat sebagai penerima manfaat dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di wilayah tersebut.
Koordinator Regional NTT, Oswaldus Ngani, menjelaskan bahwa operasional program ini didukung oleh 252 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar merata di seluruh NTT.
“Mayoritas satuan layanan ini dikelola oleh mitra yang melibatkan partisipasi masyarakat, yayasan, hingga personel TNI dan Polri,” ujar Oswaldus di Kupang, Senin (13/4/2026).
Selain aspek kesehatan, Oswaldus menekankan bahwa MBG memberikan dampak pengganda (multiplier effect) yang luas terhadap perekonomian lokal. Saat ini, sebanyak 12.141 tenaga kerja lokal telah terserap dalam rantai distribusi program ini.
“Tenaga kerja yang terserap mulai dari ahli gizi, akuntan, juru masak, hingga tenaga keamanan dan pengemudi. Program ini juga menghidupkan roda ekonomi para petani, peternak, nelayan, serta pelaku UMKM di NTT yang menjadi penyedia bahan baku,” tambahnya.
Meski jumlah 252 dapur SPPG saat ini masih di bawah target total untuk wilayah NTT, Oswaldus optimis distribusi layanan akan terus meningkat dan tepat sasaran. Badan Gizi Nasional bersama pemangku kepentingan terkait terus melakukan evaluasi berkala guna memastikan kualitas layanan dan keberlanjutan program.
“Harapan kita, program ini melahirkan generasi muda NTT yang cerdas dan bebas stunting. Kami memohon dukungan seluruh masyarakat agar semua anak di NTT dapat menikmati manfaat dari program ini secara merata,” pungkasnya.

