Lakukan Investigasi Penelantaran Keluarga, Dua Jurnalis di Kupang Jadi Korban Kekerasan Oknum Polisi
SPIRITNESIA.COM, KUPANG – Kasus kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi di Kota Kupang. Dua wartawan dari media DeteksiNTT.com, Deviandi Selan dan Nino Ninmusu, diduga mengalami intimidasi, pengancaman, hingga penganiayaan fisik oleh oknum anggota polisi berinisial Bripka SDT pada Kamis (12/3/2026).
Peristiwa ini bermula saat kedua jurnalis tersebut melakukan investigasi terkait laporan Welmince, istri sah dari Bripka SDT yang bertugas di RS Bhayangkara Kupang. Welmince mengadu bahwa dirinya dan kedua anaknya telah ditelantarkan selama kurang lebih delapan tahun.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kedua wartawan mendampingi pelapor ke sebuah rumah di kawasan Terminal Oebufu untuk memastikan keberadaan Bripka SDT yang diduga tinggal bersama wanita lain. Investigasi ini dilakukan guna memenuhi akurasi pemberitaan terkait laporan polisi yang sebelumnya telah dilayangkan pelapor pada September 2025.
Situasi memanas ketika terjadi keributan antara pelapor dan Bripka SDT di lokasi tersebut. Deviandi Selan yang mencoba mendokumentasikan peristiwa itu melalui video handphone, justru dihadang oleh pelaku. Meski sempat diperingatkan oleh saksi bahwa Deviandi adalah wartawan, pelaku diduga tetap melakukan pemukulan yang mengenai tangan kiri korban dan mengejarnya menggunakan helm.
Tak berhenti di situ, Bripka SDT juga menghampiri Nino Ninmusu yang saat itu tengah menunggu di atas motor. Nino mengaku mendapatkan ancaman verbal, pukulan di bagian helm, hingga pencekikan di leher.
“Dia (pelaku) sempat menyita identitas saya berupa kartu BPJS dan menanyakan alamat tinggal saya dengan nada mengancam. Dia juga bilang ‘Beta tanda basong’ (Saya tandai kalian),” ungkap Nino dalam keterangannya.
Ironisnya, pelaku juga melakukan penyitaan paksa terhadap satu unit sepeda motor milik Deviandi Selan sebagai jaminan agar korban menemuinya kembali. Hingga berita ini diturunkan, motor tersebut dan kartu identitas korban dikabarkan masih dalam penguasaan oknum polisi tersebut.
Aksi intimidasi terus berlanjut saat Nino hendak pulang. Ia mengaku dibuntuti oleh Bripka SDT hingga ke kawasan jalan buntu dekat RS Leona. Di sana, pelaku kembali melontarkan ancaman pembunuhan terhadap Deviandi Selan.
“Kalau sampai tertangkap, saya sudah banting kasih mati dia. Saya siap berhenti jadi polisi,” ujar Nino menirukan ucapan ancaman dari oknum tersebut. (Melky)
