Spiritnesia.com, Kupang – Kura-kura Rote adalah spesies endemik yang hidup di air tawar dan hanya ditemukan di Pulau Rote, sebuah pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan keindahan alam yang memukau. Kura-kura ini memegang peranan penting dalam ekosistem lokal; selain menjaga kesehatan perairan, bekas sarang telurnya juga membantu menyuburkan tanah dan menambah kandungan nutrisinya.
Keunikan kura-kura ini terletak pada lehernya yang panjang seperti ular, sehingga sering disebut sebagai Kura-kura Leher Ular Rote atau Kura-kura Rote. Sayangnya, reptil unik ini mengalami nasib buruk akibat maraknya perburuan di masa lalu untuk diperdagangkan sebagai hewan peliharaan di luar negeri. Akibatnya, kura-kura Rote punah secara lokal di habitat alaminya.
Sebagai salah satu reptil paling langka di Indonesia, Kura-kura Rote kini mendapatkan perhatian luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Sejak tahun 2018, berbagai upaya pelestarian telah dilakukan melalui kolaborasi antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT), dan Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS IP).
Salah satu upaya pelestarian yang dilakukan adalah melalui repatriasi satwa, yaitu mendatangkan Kura-kura Rote hasil penangkaran dari luar negeri. Repatriasi pertama dilakukan pada 23 September 2021, dengan membawa 13 ekor kura-kura Rote kembali ke Indonesia. Kemudian, repatriasi kedua pada 8 Agustus 2023 membawa kembali 33 ekor kura-kura. Proses repatriasi ini berjalan sukses berkat dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak terkait.
Kini, kura-kura Rote berada di Unit Pengelolaan Satwa BBKSDA NTT di Kota Kupang, di mana mereka dirawat dengan baik dan telah berhasil berkembang biak. Pelestarian kura-kura Rote sangat penting untuk memastikan bahwa kita tidak kehilangan salah satu kekayaan alam yang berharga ini.
Dengan segala upaya yang telah dan terus dilakukan, kita berharap kura-kura Rote dapat kembali menghuni dan memperkaya ekosistem Pulau Rote.
Fali inak kahelek neu nusa namon lote (pulangnya sang primadona ke kampung halaman).
Tahun 2024 menjadi momen istimewa bagi Kura-kura Rote yang akhirnya akan kembali ke rumah aslinya di Pulau Rote. Pelepasliaran ini adalah hasil dari proses persiapan yang sangat panjang dan teliti. Kura-kura Rote hasil repatriasi telah dilatih untuk berburu mangsa di alam bebas serta dikenalkan dengan kondisi habitat yang akan mereka tempati.
Tak hanya itu, persiapan di habitat alaminya juga dilakukan dengan berbagai penelitian dan survei intensif, serta pembangunan infrastruktur yang diperlukan. Upaya ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat setempat, khususnya para pemilik danau dan kelompok adat penjaga habitat Kura-kura Rote. Mereka akan menjadi “wali konservasi Kura-kura Rote” yang bertugas menjaga kura-kura dan habitat alaminya.
Dengan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak, kita berharap Kura-kura Rote dapat hidup dan berkembang dengan baik di rumah aslinya. Mari kita sambut kembalinya sang primadona Pulau Rote dengan semangat pelestarian yang tinggi.
Pesan konservasi lewat lagu Kura-kura Rote.
Dalam rangka mendukung program pelestarian kura-kura Rote, pemerintah (BBKSDA NTT-KLHK) bekerja sama dengan WCS IP telah mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian spesies ini. Salah satu cara kreatif yang dipilih adalah melalui musik. Diharapkan, alunan musik dan lirik yang menyentuh hati dapat menyampaikan pesan pelestarian kura-kura Rote dengan cara yang lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.

Ralna Yansepa Nalle, seorang putri asli Rote, telah menciptakan dan menyanyikan lagu “Kura-Kura Rote” sebagai bentuk kecintaan dan kepeduliannya terhadap Pulau Rote. Lagu ini menjadi istimewa karena diproduksi dengan sangat indah oleh Renhat Souljah, seorang produser yang juga memiliki kepedulian yang sama terhadap pelestarian kura-kura Rote. Lagu “Kura-Kura Rote” didedikasikan untuk mendukung upaya pelestarian yang telah dan terus berlangsung.
Melalui lagu ini, kita diajak untuk memahami pentingnya melindungi dan melestarikan kura-kura Rote. Dengan leher panjang menyerupai ular dan habitat yang hanya ada di Pulau Rote, kura-kura ini adalah makhluk yang unik dan menawan. Sayangnya, keunikan ini juga menyebabkan kura-kura Rote diburu secara tidak bertanggung jawab hingga hampir punah di habitat aslinya.
Lagu ini mengajak kita semua untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap ancaman kepunahan kura-kura Rote. Mari kita bersama-sama mengembalikan kura-kura Rote ke habitat aslinya di Pulau Rote. Mari kita jaga kura-kura Rote sebagai salah satu ikon keindahan alam Pulau Rote.
Penghargaan yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada Ralna Yansepa Nalle atas dedikasinya dalam menciptakan lagu ini untuk mendukung aksi konservasi di lapangan. Semoga lagu ini menjadi warisan dan simbol semangat kolaborasi dalam menyelamatkan satwa langka di Indonesia. (**)