Menemukan Kebaikan Alam di Ketinggian ‘Mutis’, Ibu Yang Menghidupi Pulau Timor

Spiritnesia.com, Mutis – Gunung Mutis. Itu nama gunung tertinggi di pulau Timor dan mungkin juga tertinggi di NTT. Tingginya 2.427 meter atau sekitar 2,4 kilometer. Letaknya di tengah-tengah daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara, daerah darimana saya datang atau berasal. Namun sejak kecil, saya pun hanya sering memandang gunung kebanggaan orang Timor itu dari kejauhan, tanpa menginjakan kaki di sana atau mendekat saja ke sana belum pernah seumur hidup saya, hingga menyelesaikan bangku kuliah.

Kata orang Timor, Gunung Mutis adalah jantung kehidupan pulau Timor, la mengairi dan menghidupi seluruh kehidupan pulau Timor. Itu pengetahuan dasar saya berdasarkan penjelasan orang tua saya sejak kecil, tetapi memahaminya secara mendalam secara ilmu pengetahuan (scientific), hubungan causalitas (sebab- akibat) hingga munculnya penjelasan seperti itu, saya pun tidak tahu dan belum seratus persen mengerti.

Saya teringat guru SD saya dulu, ia mengajarkan bahwa tinggi Gunung Mutis itu punya banyak keanekaragaman hayati seperti pohon besar dan rerumputan serta air dan bebatuan, lalu Binatang. Juga ada penduduk yang tinggal di sekitar area kaki gunung Mutis. Gunung Mutis memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan masyarakat setempat, terutama suku-suku yang tinggal di sekitarnya.

Selain aspek ekologisnya, Gunung Mutis juga memiliki makna budaya yang dalam bagi suku-suku yang tinggal di sekitarnya. Berbagai kelompok etnis seperti kelompok Atoni dan kelompok Tetun memiliki keterikatan spiritual dengan gunung ini. Mereka meyakini bahwa Gunung Mutis adalah tempat yang sakral dan memiliki hubungan dengan dunia roh.

Sejumlah ritual adat dan upacara keagamaan seringkali dilakukan oleh masyarakat setempat di lereng gunung ini. Suku-suku yang tinggal di wilayah sekitar Gunung Mutis telah menjadikannya sebagai tempat yang sakral dan memiliki mitos-mitos kuno yang diceritakan dari generasi ke generasi.

Menurut salah satu mitos, Gunung Mutis dianggap sebagai tempat para leluhur dan roh-roh yang menjaga dan melindungi penduduk setempat. Ini mencerminkan kedalaman spiritual dan penghormatan suku terhadap alam sekitar.

Datang pada bulan Agustus 2023, tepatnya dihari Sabtu (27/08/2023), saya dihubungi Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui salah satu senior jurnalis untuk bergabung dalam tim Expedisi Keanekaragaman Hayati Mutis-Timau tahun 2023. Tim ekspedisi itu merupakan gabungan berbagai mahasiswa/I dari sejumlah kampus di wilayah NTT maupun di luar wilayah NTT. Beberapa diantaranya yaitu Universitas Nusa Cendana Kupang/UNDANA dan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang/UNWIRA serta Politeknik Pertanian Negeri/POLITANI Kupang, Universitas Timor/UNIMOR dan STIPER Jogjakarta. Tim tersebut lalu diberi pembekalan terkait safety oleh tim BBKSDA NTT dan para expert sebelum diturunkan ke Mutis untuk misi tersebut.

“Pengambilan data di Mutis Timau ini ada 4 tujuan yakni, memperoleh data potensi jenis satwa dan tumbuhan liar, membangun sinergitas pemanfaatan hutan konsentrasi bersama Perguruan Tinggi di NTT, meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat untuk pengelolaan kawasan hutan konservasi ang memberikan manfaat untuk masyarakat secara umum dan publikasi keanekaragaman hayati Cagar Alam Mutis Timau sesuai standar ilmiah melalui seminar atau publikasi pada jurnal ilmiah,” jelas Kepala BBKSDA NTT, Ir. Arief Mahmud., M.Si sesaat sebelum melepas tim tersebut menuju Kawasan CA Mutis pada Sabtu (23/08/2023) pagi.

Seusai pembekalan pagi itu, saya pun turut serta dengan rombongan tim expedisi tersebut menuju CA Mutis. Perjalanan ke Mutis memakan waktu kurang lebih hingga 12 dua belas jam. Kami menyinggahi Kota Soe untuk santap/makan siang bersama di Kantor pada pukul 12.00 Wita. Seusai makan siang, kita di bagi dalam 4 team yang terpisah sesuai dengan level ketinggian dari permukaan laut yang berbeda, untuk menuju tempat yang telah ditentukan yakni Satu Team menuju Kecamatan Miomafo Barat dan Tiga Team Lainnya menuju Kecamatan Fatumnasi.

Pada pukul 01:00 WITA, Team 1, 2 dan 3 melanjutkan perjalanan menuju pos Fatumnasi menggunakan Satu Mobil DAMRI, Satu Avanza, Dua Mobil Innova, Dua Mobil Patroli Kehutanan Dinas BKSDA, Dua Motor Trail dan Satu Motor Suzuki Satria F150. Dan pada pukul 15:30 Team gabung tersebut tiba di Resort Fatumnasi.

Lalu saya menemukan sendiri lewat berbagai literatur, bahwa salah satu hal yang membuat Gunung Mutis istimewa adalah keragaman hayati yang dimilikinya. Karena ketinggian dan iklim yang berbeda di sepanjang ketinggiannya, gunung ini menjadi rumah bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan yang unik dan langka. Beberapa spesies tumbuhan dan hewan yang ditemukan di Gunung Mutis tidak dapat ditemukan di tempat lain di pulau Timor.

Setibanya di Resort Fatumnasi, team yang mengendarai DAMRI di turunkan di Resort Fatumnasi. Setelah itu tim melakukan pengecekan anggota sebelum melanjutkan perjalanan menuju Padang Dua Putri/pintu masuk.

Saat team tiba di Padang Dua Putri pada pukul 17:00 Wita, team disambut tokoh adat untuk melakukan ritual. Setelah ritual, kami dibagi lagi menjadi 2 team yakni team 1 dan 2 menuju Bawa kaki Mutis alias Padang Saat Lelofui. Sementara team 3 menuju Nenas.Baca Juga: Keluarga Besar Mutis Tuan Tegakan Aturan Adat Kunjungan ke CA Mutis

Perjalanan tersebut dipimpin langsung Kepala Bidang Teknis BKSDA NTT, dan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam menuju padang satu Lelofui.

Keesokan harinya, dari dua team tersebut dibagi lagi menjadi empat regu kecil untuk melakukan penelitian dari ketinggian 1.500 meter hingga 2.427 puncak Mutis, dengan metode yang disesuaikan dengan sasaran pengamatan keanekaragaman hayati, meliputi satwa liar berupa Mamalia, Burung, Reptilia serta tumbuhan..

1. Mamalia
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui komposisi jenis dan status perlindungan satwa liar (mamalia, burung, dan herpetofauna). Alat dan bahan yang digunakan, yaitu binokuler, suntikan, trap, mist net, botol spesimen, kompas bidik, termometer dry wet, head lamp/senter, kamera, alat tulis, fieldguide mamalia Borneo, pita ukur, tallysheet, alkohol, dan ikan asin.

Pengamatan Langsung
Metode Transek Garis (Line Transect)
Metode transek garis merupakan metode yang sering digunakan dalam pengumpulan data jenis dan jumlah individu satwa liar. Metode ini dilakukan dengan pengamatan berjalan sepanjang jalur yang sudah ditentukan dengan mencatat semua data yang ditemukan. Panjang dan lebar jalur ditentukan oleh topografi dan kerapatan lokasi pengamatan. Data yang dikumpulkan merupakan data perjumpaan langsung oleh satwa liar yang berada di lebar jalur. Pengamatan dilakukan pada transek sepanjang 1km yang terbagi menjadi tiga jalur pengamatan dengan ulangan sebanyak dua kali pada setiap jalurnya.

Setibanya di Resort Fatumnasi, team yang mengendarai DAMRI di turunkan di Resort Fatumnasi. Setelah itu tim melakukan pengecekan anggota sebelum melanjutkan perjalanan menuju Padang Dua Putri/pintu masuk.

Saat team tiba di Padang Dua Putri pada pukul 17:00 Wita, team disambut tokoh adat untuk melakukan ritual. Setelah ritual, kami dibagi lagi menjadi 2 team yakni team 1 dan 2 menuju Bawa kaki Mutis alias Padang Saat Lelofui. Sementara team 3 menuju Nenas.Baca Juga: Keluarga Besar Mutis Tuan Tegakan Aturan Adat Kunjungan ke CA Mutis

Perjalanan tersebut dipimpin langsung Kepala Bidang Teknis BKSDA NTT, dan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam menuju padang satu Lelofui.

Keesokan harinya, dari dua team tersebut dibagi lagi menjadi empat regu kecil untuk melakukan penelitian dari ketinggian 1.500 meter hingga 2.427 puncak Mutis, dengan metode yang disesuaikan dengan sasaran pengamatan keanekaragaman hayati, meliputi satwa liar berupa Mamalia, Burung, Reptilia serta tumbuhan..

1. Mamalia
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui komposisi jenis dan status perlindungan satwa liar (mamalia, burung, dan herpetofauna). Alat dan bahan yang digunakan, yaitu binokuler, suntikan, trap, mist net, botol spesimen, kompas bidik, termometer dry wet, head lamp/senter, kamera, alat tulis, field guide mamalia Borneo, pita ukur, tallysheet, alkohol, dan ikan asin.

Pengamatan Langsung
Metode Transek Garis (Line Transect)
Metode transek garis merupakan metode yang sering digunakan dalam pengumpulan data jenis dan jumlah individu satwa liar. Metode ini dilakukan dengan pengamatan berjalan sepanjang jalur yang sudah ditentukan dengan mencatat semua data yang ditemukan. Panjang dan lebar jalur ditentukan oleh topografi dan kerapatan lokasi pengamatan. Data yang dikumpulkan merupakan data perjumpaan langsung oleh satwa liar yang berada di lebar jalur. Pengamatan dilakukan pada transek sepanjang 1km yang terbagi menjadi tiga jalur pengamatan dengan ulangan sebanyak dua kali pada setiap jalurnya.

Penggunaan Perangkap (Trapping)
Perangkap atau trapping digunakan untuk inventarisasi mamalia kecil seperti tikus di lantai hutan. Perangkap dipasang secara purposif pada habitat yang diduga merupakan habitat dari mamalia kecil. Hal ini dilakukan agar peluang penangkapan semakin besar. Jenis perangkap yang digunakan adalah live trap sehingga mamalia yang terjebak tidak akan mati. Setiap lokasi pengamatan dipasang 10 trap sehingga total semua trap yang digunakan sebanyak 30 trap. Jaring kabut digunakan sebagai perangkap mamalia terbang (kelelawar). Jaring dipasang membentang pada jalur yang mungkin dilewati kelelawar

Pengamatan Cepat (Rapid Assesment)
Metode pengamatan cepat merupakan metode untuk mengetahui jenis-jenis mam alia yang terdapat di lokasi pengamatan. Pengamatan tidak harus dilakukan pada jalur atau lokasi khusus. Pengamatan hanya mencatat jenis-jenis mamalia yang ditemukan seperti ketika melakukan survei lokasi, berjalan di luar waktu pengamatan, dan sebagainya. Metode ini hanya untuk mengetahui jenis-jenis mamalia, tidak dapat digunakan untuk menghitung pendugaan populasi.

Pengamatan Tidak Langsung
Metode ini digunakan untuk satwa yang sulit dijumpai secara langsung. Data yang diambil dapat berupa feses, jejak kaki jejak makanan, bekas sarang, bekas makanan, suara, bekas cakaran, dan kubangan. Data yang dikumpulkan merupakan data primer dan data sekunder. Data dari pengamatan tidak langsung didapatkan dari wawancara dengan masyarakat

Analisis Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan atau menganalisis suatu has penelitian tetapi tidak untuk membuat kesimpulan yang luas. Analisis data dilakukan dengan mengumpulkan daftar jenis mamalia yang telah dijumpai secara langsung maupun tidak langsung sekaligus menjelaskan permasalahan yang dijumpai dalam pengambilan data.

Burung
Pengamatan dilaksanakan pada empat titik pengamatan dalam wilayah Cagar Alam Mutis yang akan dilakukan tanggal 25-28 Agustus 2023 dengan kali pengulangan Waktu pengamatan disesuaikan dengan waktu aktif burung diurnal, yaitu pada pagi hari pukul 06.30-10.00 WITA dan sore hari pukul 15.00-18.00 WITA

Beberapa peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan pengamatan burung yaitu binokuler, Global Positioning System (GPS), buku panduan lapang pengenal jenis burung Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali (MacKinnon, Philipps, dan Van Balen 2010) dan buku identifikasi burung daerah Wallacea, tally sheet metode MacKinnon, tally sheet metode titik hitung, kamera, alat tulis, handphone untuk merekam suara, dan tripod. Pengambilan data dilakukan pada seluruh spesies burung yang terlihat dan teridentifikasi selama kegiatan pengamatan berlangsung.

Teknik pengambilan data secara umum dilakukan dengan metode daftar jenis MacKinnon titik hitung, dan metode rapid assessment. Daftar jenis Mackinnon digunakan sejak awal mulai masuk ke dalam kawasan hingga meninggalkan kawasan dengan menuliskan 10 spesies burung yang teridentifikasi ke dalam daftar jenis.

Titik hitung dilakukan dengan menentukan titik pengamatan yang memiliki diameter seluas 100 m kemudian dilanjutkan hingga ke empat titik lain, pengamatan pada satu titik dilakukan selama 10 menit dengan jarak antar titik tengah pengamatan sepanjang 100 m. Penentuan lokasi pengamatan dilakukan secara non-acak terpilih (purposive sampling), yaitu metode penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu. Pertimbangan yang dilakukan dalam penelitian ini yakni aksesibilitas jalur, dan potensi ditemukannya satwa. Jenis data yang diambil dalam metode titik hitung yaitu: spesies burung, jumlah burung, aktivitas, waktu saat ditemukan, dan strata tajuk. Spesies burung yang dicatat pada metode titik hitung dengan perjumpaan langsung dan suara dengan radius pengamatan sebesar 100 m.

Penyebaran burung secara vertikal diketahui berdasarkan posisi burung pada strata ketinggian yang ditemukan saat pengamatan (Tabel 1) dengan strata ketinggian yang dipakai adalah strata ketinggian menurut Van Balen (1984). (bersambung).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *