Gubernur NTT Usul Warga Miskin Ekstrem Jadi Pekerja di Dapur Makan Bergizi Gratis

SPIRITNESIA.COM, WAINGAPU – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, bergerak cepat mencari solusi atas lambatnya realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah daratan Sumba. Hal ini ditegaskannya dalam pertemuan tatap muka bersama Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dan mitra Badan Gizi Nasional (BGN) di Aula Universitas Kristen Wira Wacana, Sumba Timur, Sabtu (14/3/2026) malam.

Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa capaian layanan MBG di Sumba Timur masih jauh dari target. Dari total 70.000 sasaran, baru sekitar 11.000 anak yang terlayani.

“Ini menjadi pukulan untuk kita semua. Kendala di wilayah Sumba Raya adalah pergerakan penambahan mitra yang belum masif jika dibandingkan dengan daratan Flores dan Timor,” ungkap Kepala SPPI Regional NTT, Oswaldus Ngani.

Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, menambahkan bahwa tantangan geografis menjadi faktor utama. Banyak sekolah berada di pelosok dengan akses yang sulit dijangkau dari pusat layanan dapur. Ia berharap ada mitra yang bersedia membangun dapur layanan (service unit) langsung di wilayah terpencil.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto menargetkan pelaksanaan program MBG di NTT harus mencapai 100 persen tahun ini. Ia meminta seluruh kendala diidentifikasi secara detail agar dapat diselesaikan secara terorganisir.

“Coba identifikasi apa yang menyebabkan pergerakan di Sumba lambat. Kita butuh percepatan. Program ini bukan sekadar soal gizi, tapi membuka lapangan kerja dan mendorong sektor ekonomi produktif seperti pertanian dan peternakan,” tegas Melki.

Sebagai solusi konkret, Gubernur Melki mengusulkan agar operasional dapur MBG memprioritaskan perekrutan tenaga kerja dari kelompok masyarakat miskin ekstrem.

“Setiap dapur bisa merekrut 5 hingga 10 orang dari warga miskin ekstrem. Ini akan membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka secara langsung,” jelasnya.

Selain itu, ia mendorong keterlibatan pelaku usaha lokal sebagai pemasok bahan baku pangan dengan memanfaatkan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dengan begitu, kebutuhan pangan untuk program MBG tidak perlu didatangkan dari luar daerah, sehingga perputaran ekonomi tetap berada di Sumba.

“Yang terpenting dapur-dapurnya dibangun dulu agar ekosistemnya berjalan. Kita dorong bahan bakunya berasal dari hasil bumi Sumba sendiri,” pungkas Melki dalam diskusi yang berlangsung hingga tengah malam tersebut.

Pertemuan ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, serta ratusan anggota SPPI se-daratan Sumba. Diskusi ini diharapkan menjadi titik balik percepatan program MBG demi memastikan anak-anak di pelosok Sumba mendapatkan asupan gizi yang layak. (Humas Pemprov/Gusty)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *