Jalan Penghubung Dua Desa di Kecamatan Biboki Selatan Rusak Berat, Masyarakat: Hasil Bumi Banyak Tidak Laku

Spiritnesia.com, Kefamenanu- Akibat akses jalan penghubung antar Dua Desa di Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), rusak berat. Masyarakat keluhkan hasil Bumi tidak ada pembeli, (Alias tidak laku).

Demikian disampaikan Salah satu warga yang tidak MA kepada awak media ini pada Sabtu, 17/05/2023.

“Akses jalan menuju Dua Desa ini memang sudah sangat memprihatinkan dan tidak layak digunakan Manusia,” ungkap MA.

Jalan ini pak, ujar MA, sudah dari sejak lama hingga saat ini masih seperti ini. Bahkan sudah sangat tidak layak lagi untuk dilewati manusia,” ungkap MA dengan nada kesal.

“Kondisi jalan seperti ini, kami masyarakat kewalahan untuk bisa menjual berbagai macam hasil bumi yang ada di Desa kami.”

Padahal lanjutnya, setiap Lima tahun menjelang pemilihan baik pemilihan LEGISLATIF dan PILPRES, PILGUB dan PULBUB, kami masyarakat Desa ini, tidak perna memilih Golput, kami tetap menggunakan hak pilih kam, tuturnya.

“Setiap kali menjelang pemilihan umum banyak calon LEGISLATIF, dan Bupati, kami selalu dijanjikan, untuk bangun jalan, namun hingga kini kondisi jalannya sangat memprihatinkan,” ungkapnya.

Lebih paranya lagi pak, disaat menjelang PULBUB dan LEGISLATIF banyak tim sukses yang datang pura-pura membawa meter sambil mengukur jalan, dan dengan berbagai cara mereka menjanjikan untuk membangun jalan ketempat mereka. Namun, setelah selesai pemilihan kami masyaraka tidak pernah melihat lagi batang hidung mereka, alis kami jadi korban janji Politik.

Padahal, kata Markus, setiap tahun pembayaran pajak itu selalu kami lakukan, tapi Kami masyarakat di Desa -Desa ini, kemungkinan sudah dilupakan oleh Pemerintah Daerah Kab. TTU, tutupnya dengan nada kesal.

Hal senada juga disampaikan Lasarus, kami setiap Lima tahun pasti ada tim sukses dan para Kandidat sering datang dan merayu kami untuk memilih mereka. Namun, setelah mereka terpilih mereka lupa akan janjinya sendiri, kritiknya.

Sementara itu Leonardus Nipu kami masyarakat Desa Tautpa dan masyarakat desa tetangga ini seperti belum merdeka, karena kalau saja negara Indonesia merdeka, tentu kami juga pasti sudah merasakan kemerdekaan itu, tetapi kami masyarakat desa Tautpa dan Desa- desa sekitar sini sampai hari masi tetap merasakan jalan yang dari sejak dulu hingga kini jalannya seperti ini, ungkapnya dengan nada kesal.

“Jangankan jalan yang bagus seperti butas pak, cukup dengan aspal biasa saja sudah cukup, pemerintah daerah harus tahu bahwa daerah kami juga daerah penghasil komoditi pertanian dan ternak seperti porang,kamiri,asam dan lain -lain, padahal kami selalu menyetor Pajak Bumi Bangunan (PBB),” pintanya.

Sebagai masyarakat, kami sudah sering mengusulkan kepada pemerintah, namun, sampai hari ini aspirasi kami tidak didengarkan, oleh karena itu, semoga dengan adanya kehadiran pak mereka disini, bisa bantu kami untuk menyampaikan keluhan kami pak. Dan semoga para Penjabat di daerah bisa tergugah untuk bisa turun langsing, pintanya.

“Lebih lanjut, Damianus kalau setiap tahun memasuki musim hujan banyak kendaraan yang tidak bisa masuk melewati jalan ini sebab licin dan berlumpur, kami selalu menderita karena jalan yang berlumpur, yang menyebabkan licin pak, jelasnya.

Sementara itu salah satu toko adat di daerah itu yang enggan menyebut jati dirinya juga menyatakan hal yang sama, katanya, pak, kami ini sudah merasakan jalan begini dari dulu, dan kami ini adalah korban janji – janji politik saja dari para pihak yang hanya menginginkan hak suara dari kami dimana disaat mereka butuh, namun sehabis itu kami di tinggal pergi begitu saja, ujarnya penuh kritik.

“Kondisi jalan ini sudah bertahun-tahun kondisinya rusak tapi tidak ada perhatian dari pemerintah daerah padahal sering pejabat kabupaten melewati jalan tersebut.”

Dengan kondisi jalan yang berlubang – lubang banyak pengguna jalan jatuh, dan akibat jalan yang berlubang dan digenangi air saat musim hujan, jelasnya.

Apabila kondisi jalannya masih seperti ini banyak pelaku usaha yang tidak mau datang membeli hasil bumi pak, bahkan ternak sepertinya Sapi, Kerbau, Kambing, Ayam, dan hasil Bumi seperti Kemiri, Asam, jambu mente, Siri, dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *