Popular Posts

GMNI Kupang: Kematian Siswa SD di Ngada Adalah Tamparan Keras dan Kegagalan Negara

Spiritnesia.com, Kupang – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kupang menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya YBS (10), seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga nekat mengakhiri hidupnya karena himpitan ekonomi. GMNI menilai tragedi memilukan ini bukan sekadar musibah keluarga, melainkan potret nyata kegagalan negara dalam menjamin hak dasar rakyat, khususnya akses pendidikan bagi warga miskin.

Ketua GMNI Kupang menegaskan bahwa fakta seorang anak berusia 10 tahun harus menyerah pada keadaan hanya karena tidak mampu membeli buku dan pena merupakan “alarm keras” bagi pemerintah. Ia menyebut klaim pendidikan gratis dan berbagai program bantuan sosial (bansos) tidak sejalan dengan realitas di lapangan, di mana kebutuhan paling mendasar siswa justru tidak terpenuhi.

“Ini bukan persoalan individual, melainkan persoalan sistemik. Negara gagal hadir untuk mendata dan memastikan kebijakan benar-benar berpihak pada rakyat kecil,” tegas Ketua GMNI Kupang dalam keterangannya di Kupang, Rabu (5/2/2026).

Menyikapi peristiwa ini, GMNI Kupang mengeluarkan sejumlah pernyataan sikap resmi. Pertama, mereka mendesak evaluasi serius terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). GMNI mengusulkan agar skema program tersebut lebih fleksibel—misalnya dengan memberikan bantuan biaya langsung untuk perlengkapan sekolah pada hari-hari tertentu agar kebutuhan nutrisi dan alat tulis berjalan seimbang.

Kedua, GMNI menuntut evaluasi total terhadap sistem administrasi kependudukan. Mereka menyoroti fakta bahwa keluarga korban telah berdomisili di Ngada selama 11 tahun namun tetap tercatat sebagai warga Kabupaten Nagekeo, yang mengakibatkan mereka sulit mengakses bantuan sosial.

“Negara tidak boleh menghukum rakyat miskin akibat kekacauan data yang dibuat oleh negara sendiri,” tambahnya.

Ketiga, organisasi mahasiswa ini mendesak pemerintah untuk mengevaluasi penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) agar lebih tepat sasaran. Menurut GMNI, kasus YBS membuktikan bahwa warga yang sangat rentan sering kali luput dari skema bantuan pemerintah karena birokrasi yang rumit.

GMNI Kupang memperingatkan bahwa jika pemerintah terus menutup mata terhadap realitas kemiskinan struktural di NTT, tragedi serupa dikhawatirkan akan terus berulang.

“Sebagaimana cita-cita Bung Karno, pendidikan harus menjadi alat pembebasan. Jika hari ini seorang anak meninggal karena buku dan pena, maka yang sesungguhnya gagal adalah negara,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *