Tanaman Hortikultura di Desa Bea Kakor, Tim PKM Undana Terapkan Teknologi Irigasi Tetes di Kebun Green House 

Spiritnesia.com, Manggarai – Dalam rangka mendorong peningkatan usaha budidaya produksi tanaman hortikultura, Tim pelaksana Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Nusa Cendana (Undana Kupang), menerapkan Sistem Teknologi Irigasi Tetes pada Kebun Green House untuk Tanaman Hortikultura di Desa Bea Kakor, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Hal ini disampaikan Ketua pelaksana program PKM, Dr. Verdy A. Koehuan, ST., MT., kepada media ini pada Senin, 04/12/2023.

“Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, perguruan tinggi dapat mengembangkan model pemberdayaan masyarakat, membangun kapasitas masyarakat yang ada di desa, sehingga masyarakat desa dapat memanfaatkan peluang ekonomi dan memanfaatkan sumber daya desa untuk menghasilkan pertumbuhan di tingkat desa, melalui proses alih teknologi di tingkat masyarakat,” jelas Dr. Verdy A. Koehuan.

Lanjut Dr. Verdy A. Koehuan menjelaskan, dalam kegiatan ini melibatkan Mahasiswa (6 orang dari prodi Teknik Mesin dan 1 orang dari prodi Agrobisnis) dalam kegiatan magang terintegrasi dan program KKN tematik Undana periode semester Genap tahun 2022/2023.

“Peningkatan kapasitas petani melalui transfer teknologi budidaya pertanian termasuk pasca panen dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani terutama dalam menghasilkan produk yang bernilai ekonomis dapat memberi akses pertumbuhan ekonomi desa, pungkas Verdy.

Menurut Verdy, Budidaya tanaman hortikultura masih banyak kendala yang dihadapi diantaranya hama penyakit, kondisi iklim yang kurang kondusif, serta budidaya yang kurang intensif. Oleh karena itu, perlu adanya upaya dalam meningkatkan produksi tanaman hortikultura, dengan cara penanaman pada lingkungan terlindungi seperti dalam rumah kaca (green house, .red) yang dilengkapi dengan sistem irigasi tetes, jelasnya lagi.

“Karena dengan rumah kaca (green house, red), parameter lingkungan seperti suhu, sinar matahari, dan kelembaban udara dapat dikondisikan dan didistribusikan secara merata pada level yang optimal sesuai kebutuhan tanaman,” ujarnya.

Untuk tujuan ini, lanjut Verdy menjelaskan, dalam pembuatan green house syaratnya adalah mempunyai transmisi cahaya yang tinggi, konsumsi panas yang rendah, ventilasi yang cukup dan efisien, serta struktur yang kuat. Green house untuk daerah tropis sangat memungkinkan dan mempunyai banyak keuntungan dalam produksi dan budidaya tanaman.

“Produksi tersebut akan dapat dapat dilakukan sepanjang tahun, dimana produksi dalam lahan yang terbuka tidak memungkinkan karena adanya hujan yang sering dan angin yang kencang. Struktur green house di daerah tropis sering menggunakan sisinya untuk melindungi dan mengontrol suhu dengan menggunakan ventilasi alamiah maupun terkontrol dengan dilapisi jala (screens atau insect net) yang mampu mengurangi serangan serangga dan hama.”

Lanjut Verdy menjelaskan terkait Irigasi tetes ini adalah metode irigasi yang menghemat air dan pupuk dengan mengatur aliran air dengan menetes pelan ke perakaran tanaman, melalui jaringan katup, pipa dan emiter. Manfaat Irigasi ini yakni: 1) Hemat air untuk pengairan, 2) Penggunaan air yang sesuai dengan kebutuhan tanaman saja, tidak mengalirkan air ke semua area, 3) Hemat tenaga kerja saat penyiraman.

“Sehingga dengan penggunaan sistem irigasi modern ini, tenaga yang dibutuhkan dalam penyiraman tanaman menjadi berkurang, 4) Hemat waktu. Pengaturan pada sistem irigasi tetes ini sangat efisien sehingga mengurangi waktu penyiraman, bahkan bisa menggunakan timer yang bisa diatur jadwal dan kebutuhan tanaman.”

Green House dengan ukuran 6 m x 5 m x 3 m yang diaplikasikan terbuat dari konstruksi rangka baja ringan. Foto Istimewa

Dr. Verdy A. Koehuan, ST., MT., selaku ketua tim pelaksana PKM menjelaskan bahwa Green House dengan ukuran 6 m x 5 m x 3 m yang diaplikasikan terbuat dari konstruksi rangka baja ringan profil C (tebal 0,75 mm), beratapkan plastik ultra-violet (14% UV protector) dengan tebal 200 mikron, pada dinding digunakan insect-net 50 mesh.

“Sistem irigasi tetes yang diaplikasikan menggunakan sistem gravitasi dimana air dari sumber dipompa ke tandon penampung (1100 liter), kemudian dialirkan ke setiap lajur tanaman, terdapat 6 lajur dengan panjang per lajur 5 m dengan jarak tanaman 0,3 m. Pada setiap titik emiter terpasang polibag sehingga terdapat 96 pohon tanaman yang ada dalam green house. Air sebelum dialirkan ke tanaman, terlebih dulu dialirkan melalui filter air irigasi tipe Y disk, venturi injector pupuk dengan pipa utama (PVC 1 inch), pipa pembagi (PVC 0,75 inch) dan selang drip (0,75 inch) serta selang piping (17 mm).”

Ia menuturkan bahwa, aplikasi teknologi ini tentu sangat membantu petani, sehingga keberlanjutan teknologi ini harus diperhatikan sehingga ke depannya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan kelompok tani. Penerapan Teknologi Irigasi Tetes pada Kebun Green House di desa Beakakor berhasil meningkatkan wawasan dan pengetahuan warga masyarakat petani dan mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini.

“Pemilihan jenis tanaman hortikultura yang bernilai ekonomis melalui pengelolaan tanaman berbasis irigasi tetes dalam kebun green house tentu dapat meningkatkan pendapatan petani,” ujarnya.

Pelaksana mengucapkan terima kasih kepada Universitas Nusa Cendana atas bantuan dana melalui Dipa Undana Tahun 2023, Masyarakat dan Pemerintah Desa Bea Kakor, Kecamatan Ruteng, serta Pemerintah Kabupaten Kabupaten Manggarai, atas kerjasama yang terjalin selama pelaksanaan kegiatan Kemitraan kepada Masyarakat (PKM). (Gusty)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *