Spiritnesia.com, Kefamenanu – Alam adalah sumber kehidupan kita. Dari udara yang kita hirup, air yang kita minum, hingga tanah yang kita pijak, semua berasal dari alam. Namun, seringkali kita lupa bahwa alam bukanlah warisan nenek moyang yang bisa dikuras habis, melainkan titipan anak cucu yang membutuhkan perawatan dan perlindungan dari kita.
Masyarakat Desa Faenake, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), telah menunjukkan langkah nyata dalam menerjemahkan filosofi tersebut. Melalui Gerakan Tanam 1.200 Pinang Rakyat, mereka melakukan aksi pemulihan ekonomi sekaligus penjagaan ekosistem lingkungan yang luar biasa.
Dusun Oeana: Simfoni Hijau di Perbatasan RI-RDTL
Dusun Oeana bukan sekadar sebuah pemukiman; ia adalah potret ketangguhan di wilayah Timor Barat. Terletak di tengah lanskap perbukitan yang eksotis, Oeana memiliki potensi alam yang melimpah namun rentan terhadap perubahan iklim. Tanahnya yang subur merupakan aset berharga yang jika dikelola dengan bijak, akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi bagi warganya.
Pinang, sebagai tanaman dengan nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar yang stabil, dipilih bukan tanpa alasan. Tanaman ini mampu tumbuh selaras dengan vegetasi lokal, berfungsi menahan erosi di tanah berlereng, sekaligus menjadi komoditas unggulan yang dapat memberikan pendapatan berkelanjutan bagi rumah tangga di desa. Menanam 1.200 pohon pinang di Oeana adalah investasi jangka panjang untuk kemandirian finansial masyarakat.
Keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi lintas sektor. Kerja sama antara Yayasan Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri (CIRMA) dengan para mitranya seperti Climate Justice Resilience Fund (CJRF), Yayasan Nusa Timor Mandiri, dan Yayasan Media Flores Peduli, menjadi katalisator bagi impian warga Faenake. Ini adalah contoh nyata bagaimana gerakan akar rumput yang didukung oleh jejaring strategis dapat menciptakan perubahan masif dalam kualitas hidup masyarakat.
Direktur Yayasan CIRMA, John Mangu Ladjar, S.Sos, menegaskan komitmennya untuk menjadikan Dusun Oeana sebagai titik fokus pelestarian. Fokusnya tidak hanya pada aspek bercocok tanam, tetapi pada pengembangan pertanian berkelanjutan yang ramah bagi petani kecil. Dengan memperbanyak tegakan pohon, Oeana sedang dipersiapkan menjadi benteng hijau yang melindungi mata air dan menjaga keseimbangan iklim mikro di wilayah tersebut.
“Merawat alam bukan hanya tentang menjaga keindahan lingkungan, tapi juga tentang memperkuat ekonomi kita,” pungkas John Mangu Ladjar.
Selain memberikan dampak ekonomi, Plt. Kadis Pertanian TTU Chairel Malelak menekankan bahwa inisiatif ini juga berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dan cadangan air di wilayah tersebut. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga swadaya masyarakat seperti Yayasan CIRMA dapat terus berlanjut di masa mendatang.
“Pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan tanaman ini melalui penyuluh pertanian lapangan. Kami ingin memastikan bahwa 1.200 anakan pinang ini tidak sekadar ditanam, tetapi benar-benar tumbuh produktif hingga masa panen tiba,” tambah Chairel.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan masyarakat Dusun Oeana Agustinus Benu menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan bibit pinan Betara. Mereka berkomitmen untuk merawat setiap pohon pinang yang telah ditanam sebagai wujud tanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan oleh Yayasan CIRMA dan para mitranya.
Melalui aksi di Dusun Oeana, kita belajar bahwa ketika kita menjaga bumi, bumi akan membalasnya dengan kesejahteraan. Inisiatif ini adalah pesan kuat bagi kita semua: bahwa masa depan yang cerah hanya bisa dibangun di atas tanah yang dirawat dengan cinta dan kerja keras. Dan dengan adanya program ini, Desa Faennake diharapkan dapat menjadi salah satu sentra penghasil pinang unggulan di Kabupaten TTU di masa depan.
